Tekun, Mau Belajar, dan Pantang Menyerah. Mungkin rangkaian kata itu tidak berlebihan untuk menggambarkan sosok Soichiro Honda. Ya, siapa yang tidak kenal dengan Honda? Mendengar namanya saja sudah pasti mayoritas masyarakat Indonesia, bahkan dunia tahu bahwa ia adalah orang penting di perusahaan multi-milyaran dolar. Tapi siapa sangka pendiri Honda ini pernah Ditolak oleh Toyota?
Kenyataannya, Soichiro memang seorang yang memiliki kecintaan terhadap mesin. Mungkin hal itu adalah pembawaan dari ayahnya yang sempat membuka bengkel reparasi pertanian di sebuah dusun bernama Kamyo di distrik Shizuko, Jepang.
Pada usia yang masih terbilang remaja, Soichiro pindah ke kota dan mendapat pekerjaan di Hart Shokai Company. Karya pertama Soichiro di bengkel Hart Shokai ini adalah sebuah ring piston. Setelah cukup lama kerja di Hart Shokai, Soichiro memberanikan diri untuk keluar dan mulai menawarkan ring piston karyanya ke perusahaan besar, termasuk Toyota.
Namun penawarannya ditolak oleh Toyota, karena menurut Toyota ring piston buatan Soichiro belum memenuhi standarnya. Seperti umumnya orang berprestasi yang mengundurkan diri dari perusahaan kemudian berusaha membangun usaha sendiri namun gagal, banyak sahabat Soichiro yang menyesalkan kenapa Soichiro keluar dari bengkel milki Skaa Kibara.
Meski sempat merasakan tekanan-tekanan tersebut, Soichiro tidak putus semangat. Dua bulan setelah penolakan Toyota, ia kembali mulai menjalankan bengkelnya sendiri sambil terus mengasah pengetahuannya dengan menempuh pendidikan tentang mesin.
Kemaun besarnya untuk belajar itu terbukti tidak sia-sia, pengetahuan, informasi, ditambah dengan pengalaman riil di bengkelnya membuat Soichiro berhasil menciptakan ring piston yang diterima oleh Toyota. Segera setelah penerimaan itu ia-pun mendapatkan uang kontrak yang dimanfaatkan untuk membuka pabrik miliknya. Tapi malang memang tidak dapat dihindari, belum lama pabriknya dibangun, perang meletus yang mengakibatkan pabriknya beberapa kali terbakar.
Bahkan setelah masalah yang ditimbulkan oleh perang selesai, badai cobaan yang menghampiri Soichiro belum juga usai. Hampir setiap kali ia mencoba membangun lagi pabriknya, selalu ada masalah yang datang dan menghancurkannya.
Sampai akhirnya Soichiro mendapat masalah keuangan yang serius dan tidak mampu mendirikan usahanya lagi. Dalam kondisi yang serba susah itu, dengan sangat terpaksa ia menjual usahanya kepada Toyota.
Setelah itu, Soichiro yang hampir tidak bisa bangkit mulai menjalankan usaha kecil-kecilan dengan mengotak-atik sepeda memilknya yang digabung dengan sebuah motor kecil. Untung tak dapat dibendung, hasil kreasinya itu ternyata banyak diminati oleh tetangga dan masyarakat Jepang, dan inilah yang menjadicikal bakal hadirnya sepeda motor Honda.
Sekarang kita dapat melihat hasil usaha kecil-kecilan Soichiro telah berubah menjadi bisnis multi-milyaran dolar. Bukan hanya di Jepang, hampir di seluruh dunia (termasuk Indonesia), sangat mudah kita jumpai sepeda motor & mobil bermerek Honda yang lalu lalang di jalanan.
Ya, kegagalan Soichiro membangun usaha piston untuk Toyota justru menjadi titik balin yang membuat produk-produknya kini bersaing dengan Toyota. Semangat pantang menyerah, tidak gengsi untuk belajar, dan selalu berusaha bahkan ketika berada dititik terendah, inilah pelajaran terpenting dari sang pendiri Honda.
Akhir kata, Soichiro juga manusia. Sama seperti kita. Jika dia bisa, kenapa kita tidak? Ayo Mulai Usaha...!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar