Jumat, 11 Desember 2015

Belajar Dari Sony Corporation.

Sony Corporation, sebuah perusahaan multinasional yang bermarkas di Tokyo - Jepang ini tentu tidak asing bagi Anda. Ya, Sony adalah salah satu merek terkemuka di pasar elektronik. Perusahaan ini memiliki berbagai macam produk yang sangat diminati oleh masyarakat modern.

Tapi tahukah Anda bahwa Sony Corporation berasal dari sebuah usaha gagal? Kantor berita Antara pada pertengahan tahun 2015 mencatat bahwa Sony Corporation itu berawal dari sebuah sebuah rice cooker. Saat itu, Sony Corporation masih bernama Tokyo Telecommunications Research Institute yang dikenal dengan Tokyo Tsushin Kenkyujo (Totsuken).

Ceritanya, sekitar tahun 1945'an, saat perang dunia II baru saja berakhir, kontraktor Masaru Ibuka mendirikan perusahaan tersebut di sebuah lantai Departement Store yang rusak. Saat itu, bentuk usaha yang dijalankan masih kecil dan tidak fokus.

Disuatu waktu Totsuken terbuka sebagai perusahaan yang bekerja untuk memperbaiki radio, dilain waktu perusahaan tersebut juga berusaha membuat produk sendiri. Salah satunya adalah penanak nasi listrik. Penanak nasi tersebut terbuat dari elektroda aluminium yang terhubung ke bagian bawah bak kayu. 

Jangan bayangkan produknya itu sudah canggih seperti produk-produk Sony saat ini. Karena kenyataannya rice cooker tersebut masih jauh dari katagori layak. Setiap kali digunakan untuk menanak nasi, kalau hasilnya tidak gosong ya nasi itu tidak masak / mentah.

Produk tersebut minim inovasi. Karenanya, rice cooker atau penanak nasi itu tidak pernah mampu menggebrak pasar. Konon, produk pertama itu hanya laku sebanyak 100 unit. 

Namun kegagalan atas produk pertama itu tidak membuat Ibuka menyerah. Ia masih saja berusaha menciptakan barang-barang lain. Hingga akhirnya, pada tahun 1944, Ibuka bertemu dengan Akio Morita, seorang letnan Angkatan Laut yang memiliki hobi dibidang elektronik dan telah lulus dari Departemen Fisika di Osaka Imperial University.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 7 Mei 1946, Ibuka yang telah berumur 38 tahun menjalinn kerjasama dengan Morita yang saat itu baru berumur 25 tahun. Mereka mendirikan Tokyo Tsushin Kogyo KK atau Tokyo Telecommunications Engineering Corporation.

Keduanya memproduksi Power Megaphone, tape recorder G-Type dan portable tape recorder P-Type. Dalam kerjasama tersebut, Morita diberi peran yang tidak kecil. Ia menangani masalah pemasaran, keuangan, hingga sumber daya manusia. Morita memberikan kontribusi ke hampir seluruh sendi mangement perusahaan dan menjadi pelopor agar perusahaan tersebut masuk ke dalam bisnis perangkat lunak.

Dorongan untuk mengembangkan usahanya secara global kemudian membuat mereka memutuskan untuk mengubah nama perusahaan. Tepat pada 1959, Morita mengusulkan agar nama Tokyo Tsushin Kogyo diganti dengan Sony.

Tentu saja usul tersebut tidak serta merta diterima dengan baik. Saat itu, di negeri sakura nama Tsushin Tokyo Kogyo sudah mulai terkenal. Namun akhirnya usul tersebut diterima. Akhirnya, di tahun 1960, Sony Corporation resmi didirikan.

Hingga saat ini perusahaan tersebut telah menciptakan berbagai macam alat yang sangat digemari masyarakat modern. Mulai dari radio transistor yang kemudian dikembangkan menjadi televisi, VCR, Betamax, Walkman, PlayStation, Cybershot, VAIO dan ponsel-ponsel dibawah naungan Sony Ericsson Mobile Communications.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar